Hosted by Dailymotion. For legal issues report at the Copyright Center, report us on DMC, or use the Instant Removal tool.
Menghitung Risiko dari New Normal
Description
KOMPAS.TV - Gundah tak menentu mungkin inilah perasaan banyak masyarakat jika nantinya pemerintah melonggarkan PSBB.
Gamang, antara kebutuhan perut atau berisiko terpapar corona.
New normal atau normal baru digulirkan demi urusan pertumbuhan ekonomi.
Tetapi konsep ini harus ditimbang baik-baik dengan ekstra hati-hati.
Memang jika memakai asumsi makro pemerintah, pertumbuhan ekonomi Indonesia berisiko anjlok sampai ke minus 2,3 persen di 2020 atau paling rendah dalam beberapa dekade.
Menurut akademisi bidang ekonomi, new normal memang bisa membangkitkan ekonomi yang terpuruk.
Tetapi jika pelonggaran dilakukan terburu-buru sama artinya dengan menggali jurang lonjakan pasien Covid-19.
Seumpama ini terjadi, risiko ekonomi jangka panjang bakal lebih buruk dan rumit.
Kita pakai pandangan akademisi sekaligus praktisi kesehatan.
Gagasan new normal harus dikaji secara berlapis.
Ini mengingat kurva Covid-19 di Indonesia terus saja dalam tren naik.
Berbeda dengan banyak negara yang melonggarkan lockdown, kurvanya sudah melandai.
Sekali lagi, yang dibutuhkan adalah landasan kuat pembuatan kebijakan.
Tanpa dilandasi kajian mendalam terkait progres penanganan Covid-19 di daerah-daerah terutama Jakarta, kebijakan normal baru dari pemerintah pusat justru berpotensi menimbulkan lonjakan kasus baru.
Tak menentu, mungkin inilah perasaan segelintir masyarakat sebentar lagi akan sambut kondisi normal baru atau new normal.
Apakah new normal bisa jadi jawaban pemulihan ekonomi?
Ekonom Universitas Indonesia Fithra Faisal mengatakan, boleh jadi demikian tapi lihat dulu keberhasilan PSBB.
Sebab jika berbicara jangka panjang, kesehatan lebih utama untuk menentukan ekonomi.
Tatanan new normal kini tengah digodok pemerintah.
Pertimbangannya, reproduction rate dan tingkat perkembangan kasus baru berada di bawah angka satu.
Dari data Bappenas sudah ada 8 provinsi siap melaksanakan protokol ini.
Tapi tentu saja tak hanya tunggu keputusan pemerintah, masyarakat juga perlu menyiapkan diri dengan kebiasaan baru menyambut new normal.
Gamang, antara kebutuhan perut atau berisiko terpapar corona.
New normal atau normal baru digulirkan demi urusan pertumbuhan ekonomi.
Tetapi konsep ini harus ditimbang baik-baik dengan ekstra hati-hati.
Memang jika memakai asumsi makro pemerintah, pertumbuhan ekonomi Indonesia berisiko anjlok sampai ke minus 2,3 persen di 2020 atau paling rendah dalam beberapa dekade.
Menurut akademisi bidang ekonomi, new normal memang bisa membangkitkan ekonomi yang terpuruk.
Tetapi jika pelonggaran dilakukan terburu-buru sama artinya dengan menggali jurang lonjakan pasien Covid-19.
Seumpama ini terjadi, risiko ekonomi jangka panjang bakal lebih buruk dan rumit.
Kita pakai pandangan akademisi sekaligus praktisi kesehatan.
Gagasan new normal harus dikaji secara berlapis.
Ini mengingat kurva Covid-19 di Indonesia terus saja dalam tren naik.
Berbeda dengan banyak negara yang melonggarkan lockdown, kurvanya sudah melandai.
Sekali lagi, yang dibutuhkan adalah landasan kuat pembuatan kebijakan.
Tanpa dilandasi kajian mendalam terkait progres penanganan Covid-19 di daerah-daerah terutama Jakarta, kebijakan normal baru dari pemerintah pusat justru berpotensi menimbulkan lonjakan kasus baru.
Tak menentu, mungkin inilah perasaan segelintir masyarakat sebentar lagi akan sambut kondisi normal baru atau new normal.
Apakah new normal bisa jadi jawaban pemulihan ekonomi?
Ekonom Universitas Indonesia Fithra Faisal mengatakan, boleh jadi demikian tapi lihat dulu keberhasilan PSBB.
Sebab jika berbicara jangka panjang, kesehatan lebih utama untuk menentukan ekonomi.
Tatanan new normal kini tengah digodok pemerintah.
Pertimbangannya, reproduction rate dan tingkat perkembangan kasus baru berada di bawah angka satu.
Dari data Bappenas sudah ada 8 provinsi siap melaksanakan protokol ini.
Tapi tentu saja tak hanya tunggu keputusan pemerintah, masyarakat juga perlu menyiapkan diri dengan kebiasaan baru menyambut new normal.
Keywords & Tags
More from User
43:42
[FULL] Iran-AS Damai, Harga BBM di Indonesia Akan Turun? | SATU MEJA
KompasTV
21:25
[FULL] UU P2SK Atur Surat Utang Danantara hingga DPR Awasi LPS dan BI, Apa Dampaknya? | KOMBIS
KompasTV
18:10
[FULL] Istana Umumkan Tema Peringatan HUT ke-81 RI dan Libatkan Publik Tentukan Logo
KompasTV
08:00
Prabowo Sindir Koruptor: Itu Orang-Orang Pintar, Saking Pintarnya Dia Tahu Cara Nyuri
KompasTV
06:25
Prabowo Jawab Kritik soal MBG: Tidak Ada yang Lebih Genting dari Perut Lapar
KompasTV
05:05
Prabowo Blak-blakan Tahu Siapa yang Bayar Demo: Hati-Hati, Saya Kasih Peringatan
KompasTV
Related Videos
05:52
Menghitung Risiko Pelonggaran PSBB
KompasTV
06:01
Menghitung Risiko Investasi Petak Tambak Garam
KompasTV
10:17
Menghitung Dampak Rekor Kasus Positif Covid-19 Terhadap Ekonomi Indonesia
KompasTV
06:26
Tito Karnavian : Pembatasan Akses Wilayah Harus Menghitung Dampak Ekonomi dan Kesiapan Logistik
KompasTV
02:45
Soal Ekonomi Negara, Sri Mulyani: Kondisi Perekonomian Indonesia Agak Laen
KompasTV
04:08
Luncurkan Program Stimulus Ekonomi, Airlangga: Perekonomian Diharapkan Membaik | KOMPAS PETANG
KompasTV